Pengaruh Hujan Terhadap Budidaya Udang

Rumahhewan.co.id – Hujan memiliki efek yang sangat serius pada budidaya udang. Efek pada udang meliputi kram, kehilangan nafsu makan dan mengurangi konsumsi pakan, penumpukan udang di tengah kolam (2-3 hari setelah hujan) dan insang hitam atau kotor. Dari beberapa pengamatan dan catatan, tidak ada keraguan bahwa hujan deras bisa menyebabkan kematian massal. Namun, hal ini bisa diminimalisir jika petani tahu apa yang harus dilakukan.

Penting untuk petani agar mengetahui beberapa efek langsung dan tidak langsung dari hujan terhadap air di tambak udang. Artikel ini membahas berbagai efek langsung dan tidak langsung dari curah hujan terhadap budidaya udang (tanpa urutan tertentu) dan menguraikan secara rinci beberapa hal penting tentang bagaimana pengaruh curah hujan terhadap budidaya udang.

“Permasalahan dalam budidaya udang biasanya terjadi saat kekeringan parah atau hujan deras. Pengamatan mengkonfirmasi kerugian besar terjadi terutama pada periode curah hujan tinggi”. Arya, Admin Rumahhewan.co.id

Efek Langsung dan Tak Langsung Hujan Terhadap Budidaya Udang

Budidaya udang vaname

Efek langsung pada air tambak adalah penurunan suhu air, oksigen, pH, alkalinitas dan salinitas. Gangguan suara dan gelombang meningkat, dan aliran air hujan kedalam kolam.

Efek tidak langsungnya adalah ledakan jumlah phytoplankton dan akumulasi bahan organik di dasar kolam. Populasi bakteri akan meningkat drastis setelah suhu air kembali normal, dan udang akan rentan terkena gas hidrogen sulfida beracun (H2S).

Kesimpulan dari efek langsung dan tidak langsung dari curah hujan tersebut adalah;

  • Setelah semua kejadian di atas terjadi, oksigen terkuras dan menimbulkan gas beracun seperti H2S,
  • Udang yang lemah dalam masa pergantian cangkang/kulit (moulting), mudah terkena infeksi gas beracun dan pathogen yang akan menyebabkan kematian,
  • Akibat hujan yang tinggi pada budidaya udang bisa mengakibatkan kematian udang pada 2-3 hari setelah hujan.

1. Suhu

Selama curah hujan berkepanjangan dan mendung, permukaan kolam hanya sedikit terpapar sinar matahari. Angin juga menyebabkan suhu air tambak turun hingga 2-3°C. Suhu air kolam ideal harus berkisar antara 30-31°C. Saat suhu turun 1°C, serapan pakan oleh udang turun 5-10%. Dengan demikian, penurunan suhu 3°C dapat menyebabkan serapan pakan turun hingga 30%.

Aktivitas udang juga menjadi lambat. udang akan bergerak lebih sedikit dan cenderung berkumpul di dasar kolam. Ini akan secara drastis meningkatkan kepadatan udang di dasar tambak. Bila ini terjadi, udang akan mengalami lebih banyak tekanan karena bersaing untuk mendapatkan oksigen dan ruang yang terbatas.

Karena permukaan air lebih dingin, udang akan bergerak menuju daerah yang lebih hangat di dasar kolam yang merupakan area lumpur dan kadar oksigen rendah (selama turun hujan, kadar oksigen bisa menjadi nol). Di sini juga udang terkena gas H2S beracun dan bakteri patogen..

Pada suhu normal, aktivitas mikroba meningkat dan mengurangi beban organik. Begitu terjadi penurunan suhu, mikroba mengurangi aktivitasnya. Hal ini menyebabkan akumulasi bahan organik lebih banyak di kolam. Ketika suhu naik lagi, akan terjadi pertumbuhan bakteri besar-besaran karena banyaknya mikroorganisme organik.

2. Penurunan Imunitas

Akibat hujan pada budidaya udang bisa menyebabkan pH air tambak turun (normal sekitar pH 8). PH hujan biasanya sekitar pH 6,5-7,0. Hujan secara langsung akan menurunkan pH sebesar 0,3-1,5 dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan penurunan aktivitas fitoplankton.

Bila pH turun, menyebabkan toksisitas H2S meningkat, yang sangat beracun pada pH rendah. Bila serapan pakan turun selama 1-2 hari setelah hujan lebat, kanibalisme terjadi. Akhirnya, efek penurunan pH akan menurunkan imunitas udang.

3. Rendahnya Oksigen Terlarut

Di kolam, ada dua sumber oksigen terlarut (DO): dari aerator dan dari fitoplankton. Selama curah hujan berkepanjangan, aktivitas plankton akan melambat karena kurang sinar matahari. Meskipun aktivitas udang menurun akibat perubahan suhu, kebutuhan oksigennya masih tinggi atau normal.

DO dipasok oleh aerator dan jika airnya tidak tercampur rata, stratifikasi air tambak akan terjadi. Lapisan air tawar (stratifikasi) di permukaan kolam membuat oksigen sulit larut ke bagian tubuh air lainnya. Tingkat DO bisa turun dari 4 ppm menjadi 2 ppm dan kemudian dalam setengah jam menjadi 1,5 ppm jika tidak segera diambil tindakan.

4. Salinitas dan Alkalinitas

Pengenceran air tambak dengan air hujan membuat kadar salinitas dan alkalinitas turun. Agar udang mengeras kulitnya, dibutuhkan mineral (alkalinitas) yang cukup dalam air. Ketika salinitas turun dengan sangat cepat, udang dalam masa moulting tidak akan mengeraskan cangkangnya dalam waktu normal. Kanibalisme akan terjadi yang menyebabkan infeksi pada udang yang melemah.

Populasi plankton juga akan turun karena intensitas cahaya, salinitas dan pH rendah. Perubahan ini berdampak pada populasi mikroba di kolam, bakteri menguntungkan cenderung mati sehingga bakteri patogen bisa kambuh.

5. Suara

Suara air hujan pada permukaan air terasa memekakkan bagi udang di kolam karena air cenderung memperkuat suara. Hal ini menyebabkan banyak tekanan pada udang dan akan bersembunyi dari suara keras dengan mundur ke dasar kolam. Mereka kemudian terkena kondisi oksigen rendah, kepadatan tinggi, gas beracun dan suhu dingin.

6. Gelombang Yang Disebabkan Oleh Angin

Lapisan lumpur ditutupi oleh lapisan tipis beroksigen. Angin kencang menciptakan gelombang yang mengganggu lapisan ini, kemudian mengekspos lumpur hitam anaerobik yang melepaskan berbagai gas beracun seperti H2S, amonia, nitrit dan metana.

Air dari kolam ke kolam dan mengalir ke dasar tambak juga akan mengganggu daerah akumulasi lumpur dan melepaskan gas beracun. Pada paparan gas beracun ini, udang menjadi lebih lemah dan rentan terhadap infeksi dan penyakit.

7. Ledakan Populasi Plankton

Ketika suhu, cahaya, salinitas, pH dan perubahan alkalinitas, aktivitas plankton akan berkurang dan terjadi ledakan populasi plankton. Semakin tinggi populasi, semakin cepat pula plankton akan mati.  Hal ini bisa di amati melalui perubahan warna air dan pH, atau bila pH sore lebih rendah atau sama dengan pH pagi. Meski warna air masih hijau, plankton mati masih memberi warna hijau di kolam.

Fitoplankton mati membawa DO rendah karena tidak ada produksi oksigen dan oksigen yang digunakan bakteri. Ini berarti jika DO di sore hari adalah 6-7 ppm maka bisa turun menjadi hanya 2-3 ppm. Bila fitoplankton mati yang 90% akan terakumulasi di dasar kolam mulai membusuk, udang akan mulai bersaing untuk mendapatkan oksigen.

8. Moulting

Hujan menyebabkan pH turun drastis, karena pH air hujan biasanya lebih rendah dari pada air tambak. Perlambatan aktivitas plankton juga menyebabkan pH turun. Saat moulting (dalam masa pergantian cangkang) udang butuh lebih banyak tempat, dua kali lebih banyak oksigen dan kadar mineral.

Namun, kondisi selama hujan tidak menguntungkan untuk moulting. Udang moulted bercangkang lunak, dan mudah kena infeksi dan kematian. Apalagi kanibalisme udang mati membuat para petani sulit mendeteksi udang yang mati.

9. Akumulasi Bahan Organik

Selama periode hujan udang tidak makan secara normal, namun petani terus memberi pakan sehingga menyebabkan overfeeding. Aktivitas fitoplankton juga akan turun seperti yang telah dibahas sebelumnya. Tindakan bakteri juga akan melambat, sehingga bahan organik menumpuk di dasar kolam.

Ini berarti bom waktu saat populasi bakteri meningkat drastis saat suhu naik karena ada kelebihan muatan organik di kolam. Hal ini akan menyebabkan akumulasi kelebihan bahan organik di kolam.

10. Efek Gabungan

Efek keseluruhan dari curah hujan yang berlebihan adalah kematian massal karena keracunan H2S, masalah moulting dan penumpukan bahan organik. Petani perlu memahami gambaran besarnya bagaimana curah hujan dapat mempengaruhi berbagai parameter di kolam.

Solusi Jika Terjadi Hujan Saat Budidaya Udang

Idealnya, petani harus menggunakan teknologi yang tersedia dan prediksi ramalan cuaca. Jika petani belajar memprediksi cuaca dalam beberapa hari ke depan, petani akan lebih siap menghadapi kemungkinan apapun. Jika akan ada hujan dalam dua hari ke depan, persiapan kolam harus mencakup aplikasi produk bakteri yang bisa menetralkan hidrogen sulfida, sehari atau sesaat sebelum mulai turun hujan.

Selanjutnya, tindakan yang direkomendasikan agar pengaruh hujan terhadap budidaya udang tidak begitu besar;

  • Selalu pastikan kadar oksigen 20% lebih banyak dari yang dibutuhkan. Semua aerator harus berjalan saat sedang hujan.
  • Jika hujan deras, biarkan kelebihan air hujan meluap dari permukaan.
  • Pastikan untuk menerapkan kapur pada kemasan sebagai praktik biasa selama cuaca baik. Kemudian saat hujan, kapur akan meleleh ke dalam air membantu menjaga alkalinitas.
  • Pastikan untuk memeriksa pH air selama curah hujan. Jika pH turun, oleskan kapur.
  • Berhenti member pakan selama hujan.
  • Campur Vitamin C dan garam (mineral) dengan pakan sebelum atau sesudah hujan. Dosisnya adalah 5 g/kg pakan (80mL air ditambahkan 5g garam, campurkan ke dalam pakan, biarkan mengering, lalu beri makan udang). Ini akan memungkinkan udang untuk mendapatkan mineral dari pakan jika ada penurunan alkalinitas di dalam air.
  • Setelah hujan berhenti, disarankan menerapkan penetralisir hidrogen sulfida dosis ganda yang memungkinkan bakteri bermanfaat untuk menyingkirkan bakteri patogen.

Singkatnya, petani harus mempersiapkan segala sesuatu selama periode hujan karena ada banyak faktor yang mempengaruhi produksi tambak udang. Ada tanda-tanda yang perlu diwaspadai dan perlu membaca tanda-tandanya dengan benar dan melakukan tindakan pencegahan dan proaktif untuk meminimalkan dan mencegah kerugian.

Tinggalkan komentar