Panduan Cara Budidaya Belut

Melakukan kegiatan budidaya memang sangat menyenangkan. Selain Anda dapat menyalurkan hobi dalam budidaya, juga dapat menghasilkan keuntungan dari segi ekonomi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar dapat menghasilkan keuntungan berupa materi adalah budidaya belut. Sebenarnya, budidaya belut sangat mudah. Anda tidak memerlukan lahan yang luas.

Artinya, Anda dapat memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah, sehingga dapat menghasilkan keuntungan berlimpah. Lahan yang digunakan dapat berupa tanah lebih di sekitar pekarangan rumah.

Anda juga tidak perlu mengeluarkan modal besar, karena belut dapat hidup di mana saja tanpa mengenal keadaan atau kondisi geografis di suatu tempat. Inilah salah satu kelebihan membudidayakan belut di banding hewan lain.

Namun, tetap harus memerhatikan kualitas air dan pakan agar belut yang dipelihara dapat menghasilkan kualitas yang baik, sehingga dapat diterima di pasar lokal maupun internasional.

Syarat Budidaya Belut

Budidaya belut dapat dikatakan mudah apabila Anda mengetahui cara atau teknik yang tepat dalam melakukan ternaknya. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah syarat-syaratnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), syarat diartikan sebagai segala sesuatu yang perlu atau harus ada. Jadi, syarat ini merupakan hal mutlak yang harus diikuti dan tidak boleh dilewatkan saat akan membudidayakan belut.

Adapun syarat-syarat yang harus Anda penuhi saat akan membudidayakan belut, antara lain sebagai berikut:

  1. Apabila dilihat dari kondisi geografi di suatu tempat, maka budidaya tidak memerlukan syarat tersebut karena belut dapat hidup di dataran tinggi atau rendah dan dapat hidup di kelembaban dan curah hujan yang tidak terbatas.
  2. Perhatikan kualitas air yang akan digunakan. Usahakan harus yang bersih dan tidak tercemar racun.
  3. Suhu udara berkisar antara 25-31°C.

Tipe Kolam Budidaya Belut

Kolam yang digunakan khusus untuk memelihara belut memiliki tipe yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, bagi Anda yang memiliki lahan luas, dapat membuat kolam dengan ukuran luas dan besar.

Sementara bagi Anda yang memiliki Iahan sempit dapat membuat kolam kecil atau dapat menggunakan media lain yang dapat disesuaikan dengan lokasi/tempat tinggal Anda.

Ada dua tipe kolam yang dapat digunakan sesuai dengan lokasi atau tempat, yaitu sebagai berikut:

1. Tipe kolam permanen

Kolam permanen merupakan kolam yang dibuat tetap atau tanpa ada perubahan. Tipe kolam ini memiliki daya tahan yang relatif lebih lama dibandingkan dengan tipe kolam semipermanen.

Yang termasuk kolam permanen antara lain kolam tembok, kolam sawah, dan sebagainya.

2. Tipe kolam semi permanen

Tipe kolam semi permanen termasuk kolam yang dapat dipindah-pindah tempat atau posisinya. Kolam ini memiliki daya tahan rendah dan rentan terhadap kebocoran.

Kolam semipermanen antara lain, kolam terpal, kolam jaring, kolam drum/tong, dan sebagainya. Tipe kolam ini banyak digunakan bagi Anda yang memiliki lahan sempit. Selain harganya lebih murah, juga lebih praktis dan efisien dalam penggunaannya.

Berdasarkan tipe kolam tersebut, Anda juga bisa menentukan jenis kolam yang cocok untuk proses tumbuh kembang belut.

Apabila dilihat dari jenisnya, ada tiga jenis kolam yang akan digunakan untuk budidaya belut, yaitu sebagai berikut:

1. Kolam Pemijahan (Pendederan)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), pemijahan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan melepaskan telur dan sperma untuk pembuahan. Saat proses pemijahan, belut memerlukan kolam khusus. Sehingga, proses pemijahan dapat berlangsung dengan baik dan tanpa ada hambatan apa pun.

Dalam pembuatan kolam pemijahan ini menggunakan kolam tembok. Mengapa demikian? Belut termasuk salah satu hewan yang sering menembus dinding pematang untuk membuat sarang, sehingga sering menimbulkan kebocoran pada kolam.

Untuk itu, kolam yang digunakan harus dibuat permanen. Ukuran kolam yang digunakan dalam proses pemijahan ini sekitar 10-20 m persegi.

Beberapa tahap yang harus Anda lakukan dalam membuat kolam atau media untuk proses pemijahan belut, antara lain sebagai berikut.

  1. Sediakan lumpur setebal 80% dari tinggi kolam.
  2. Campur kompos ke dalam lumpur hingga merata.
  3. Masukkan air hingga campuran lumpur dan kompos tampak becek. Kemudian, diamkan selama 7 hari hingga terjadi proses pematangan.
  4. Setelah terlihat jentik-jentik, plankton, dan kutu air dalam media, Anda dapat menambahkan air (tidak lebih dari 3 cm dari permukaan media).
  5. Taburkan benih belut dalam media yang sudah matang tersebut. Sebaiknya, penaburan benih belut dilakukan pada pagi atau sore hari, sehingga benih atau bibit tidak stres akibat panas terik matahari,

2. Kolam Pembesaran

Setelah melalui proses pemasukan benih atau bibit dalam kolam pemijahan, selanjutnya yang harus Anda persiapkan adalah kolam pembesaran. Ada dua tahapan yang harus dilakukan dalam kolam pembesaran belut, yaitu sebagai berikut.

  • Kolam pembesaran I, digunakan untuk memelihara belut dengan ukuran 5-8 cm. Lama pemeliharaan belut pada kolam ini kira-kira 3 bulan atau hingga menghasilkan belut dengan ukuran 15-20 cm.
  • Kolam pembesaran II, digunakan untuk memelihara belut yang berukuran 15-20 cm (proses pembesaran). Lama pemeliharaan belut pada kolam ini kira-kira 3 bulan atau hingga menghasilkan belut dengan ukuran 30-40 cm.

Selain melalui dua tahapan tersebut, juga dapat melakukan proses pembesaran belut hanya menggunakan satu kolam pembesaran saja. Dalam hal ini, proses pemeliharaan dapat langsung dilakukan dari belut yang berukuran 5-8 cm hingga ukuran 30-40 cm.

Dengan cara ini, masa panen dapat dilakukan 2 bulan sekali, sehingga Anda dapat melakukan proses penyortiran. Tujuannya untuk memisahkan antara belut yang berukuran kecil dengan yang besar, sehingga tidak terjadi kanibalisme.

3. Kolam Penampungan (Karantina)

Kolam penampungan biasanya digunakan untuk menampung belut yang sudah besar dan siap dipasarkan. Ukuran kolam penampungan biasanya antara 500 cm x 500 cm dengan kedalaman kolam kira-kira 120 cm.

Kolam penampungan berfungsi untuk menampung belut agar tidak mengalami stres ketika dalam perjalanan menuju tempat pemasaran.

Media dan Kolam yang Cocok Untuk Budidaya

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa budidaya belut sangatlah mudah karena belut dapat hidup di mana saja tanpa mengenal ketinggian tempat, suhu, cuaca dan sebagainya.

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui belut dapat hidup di lokasi atau tempat mana saja, baik itu di lahan luas maupun lahan sempit. Bagi yang tidak memiliki lahan luas, Anda dapat memanfaatkan lahan sempit yang ada di pekarangan rumah.

Sebaiknya, dalam membudidayakan belut harus menggunakan air yang bersih. Artinya, air tersebut harus bebas dari pencemaran limbah pabrik, pestisida, limbah deter-gen, dan sebagainya.

Tidak dianjurkan menggunakan air yang mengalir dari PDAM (ledeng) karena biasanya mengandung kaporit yang tidak baik untuk perkembangan belut. Adapun suhu terbaik untuk budidaya belut berkisar antara 25-31°C.

Adapun tempat/wadah yang harus dipersiapkan dapat beraneka ragam, antara lain dapat berupa kolam tembok (kolam permanen), drum/ tong, kolam terpal, dan media lainnya.

Ada beberapa media yang dapat digunakan sebagai tempat atau lokasi yang baik untuk budidaya belut, sehingga belut dapat berkembangbiak dengan baik. Ada beberapa media yang dapat digunakan untuk budidaya belut, antara lain sebagai berikut.

1. Tong atau Drum

Budidaya belut di drum atau tong

Bagi Anda yang tidak memiliki lahan luas untuk budidaya belut, Anda dapat memanfaatkan media berupa drum/tong, sehingga lahan yang dibutuhkan sangat sedikit.

Kekurangan dari media drum ini adalah memiliki suhu udara panas, karena kondisi drum yang tertutup. Jenis drum yang digunakan untuk budidaya dapat menggunakan drum plastik atau drum seng.

Kedua jenis drum ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pada drum yang terbuat dari bahan plastik memiliki umur yang cukup panjang dibanding drum seng karena tidak mudah bocor akibat karat yang dapat mengakibatkan drum berlubang.

Cara Berternak Belut Di Drum Dengan Mudah

Anda dapat memanfaatkan drum plastik untuk beberapa kali ternak. Drum plastik dapat digunakan selama 4 tahunan. Adapun drum seng, memiliki kemungkinan bocor karena seringkali drum ini karatan.

Untuk itu, sebelum digunakan, sebaiknya lakukan pengecekan terhadap drum seng, lalu lakukan pengecatan agar tidak mudah berkarat.

2. Mina Padi

Ternak belut di sawah

Pemanfaatan mina padi sebagai media untuk budidaya belut merupakan langkah yang tepat karena sesuai dengan habitat asli dari belut sawah yang akan Anda pelihara. Namun, terkadang cara ini juga tidak efektif karena sering ditemukan belut yang lolos keluar dari media.

Untuk itu, Anda dapat menggunakan bantuan media berupa jaring atau terpal agar belut tidak mudah kabur dari media.

Cara membuat media kolam terpal menggunakan mina padi adalah dengan memasukkan sebagian terpal ke dalam tanah, lalu bagian atas media ditanami padi. Dengan cara seperti ini, belut yang Anda pelihara akan aman dan tidak mudah lolos.

3. Kolam Tembok

Budidaya belut di kolam tanah

Biasanya, kolam tembok digunakan untuk ternak ikan. Tetapi, Anda juga dapat memanfaatkan kolam tembok untuk ternak belut.

Ada dua cara yang dapat Anda lakukan untuk memelihara belut dalam kolam tembok, yaitu sebagai berikut.

  1. Kolam bisa dibuat di atas permukaan tanah yang sejajar dengan dasar kolam.
  2. Kolam dapat dibuat dengan cara membuat lubang tanah, sehingga dinding kolam tampak beberapa centimeter di atas permukaan tanah tempat memelihara belut.

Bahan utama pembuatan kolam tembok ini dapat menggunakan batu kali, batu bata, maupun batako yang direkatkan dengan campuran semen dan pasir.

Pada kolam tembok ini juga harus dilengkapi dengan-saluran air (pemasukan dan pembuangan air). Biasanya pembuatan saluran pemasukan lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan saluran pembuangan. Sebelum Anda menggunakan kolam tembok untuk memelihara belut

sebaiknya biarkan kolam selama 1-2 minggu. Selain itu, Anda juga harus merendam sabut kelapa atau pelepah pisang dalam air tersebut, sehingga mikroorganisme dapat mati.

4. Kolam terpal

Budidaya belut di kolam terpal

Sebagian peternak belut lebih memilih menggunakan media kolam terpal untuk budidaya belut. Mengapa demikian? Kolam terpal dianggap sebagai kolam yang cukup praktis dan efisien apabila dilihat dari segi penggunaannya.

Selain itu, kolam terpal juga dapat dibuat di berbagai tempat/lokasi. Artinya, dapat dibuat di lahan luas maupun lahan sempit.

Namun, kolam terpal juga memiliki kelemahan, yaitu daya tahannya hanya dapat mencapai umur 2 tahun karena harus ada penyesuaian antara volume kolam dengan beban yang ditanggung oleh terpal.

Ada dua cara yang dapat Anda lakukan saat akan membuat kolam terpal untuk budidaya belut, yaitu sebagai berikut:

  1. Kolam terpal yang disambungkan dengan bambu atau pipa ledeng (knock down).
  2. Kolam terpal yang diberi lubang. Caranya dengan melubangi atau menggali tanah sedalam 0,5-0,75 m atau sesuai kebutuhan. Kemudian, lapisi galian kolam dengan terpal sesuai dengan ukuran yang sudah dibuat.

5. Kolam jaring

kolam jaring juga dapat Anda gunakan untuk budidaya belut. Namun, perbedaan-terletak pada adanya pemberian lumpur dan bahan organik pada media kolam, sehingga belut dapat berkembang-biak dengan baik.

Sama seperti kolam terpal, kolam jaring juga memiliki umur pakai yang sangat sebentar, yaitu 2 tahun, karena adanya penyesuaian antara volume dan beban.

Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikanldan lakukan saat akan membuat kolam terpal, antara lairtl sebagai berikut:

  • Air yang akan digunakan harus memiliki kedalaman] yang sama dengan lapisan media yang akan digunakan! Apabila lapisan media setinggi 100 cm dan tinggi air 7-12 cm, maka kedalaman air kolam mencapai 0,95-0,1 m. %
  • Jaring yang akan digunakan untuk ternak belut sebaiknya memiliki bentuk seperti kolam dengan sisi atas tampak terbuka. Sementara itu, mata jaring yang digunakan harus yang berukuran kecil.
  • Buatlah pasak-pasak dari bambu setinggi jaring sebagai rangka jaring, sehingga tidak mudah goyah dan tetap kokoh.
  • Ikatkan sisi jaring pada pasak tiang bambu. Sebaiknya, sepanjang jaring dilapisi karung plastik untuk menahan media lumpur yang akan digunakan untuk budidaya belut.
  • Langkah terakhir, Anda dapat memasukkan media yang akan digunakan untuk ternak belut.

Sebaiknya, kolam yang digunakan untuk budidaya belut dengan jaring adalah kolam yang agak tertutup atau beraliran air pelan. Kolam belut tetap membutuhkan adanya pergantian air untuk membuang gas atau buih dari hasil fermentasi atau dekomposisi bahan organik.

Sebenarnya panduannya masih panjang, namun nanti saya pisah saja agar lebih fokus belajarnya. Untuk pemeliharaan lainnya dan pakan yang bagus untuk belut, akan saya posting di blog ini.

Tinggalkan komentar